総目次

Kondo Saburo, kepala editor  harian "Pewarta Selebes" di Makassar

Wakita Kiyoyuki


Terbitan pertama pada tanggal 8 Desember 1942 (Koleksi Perpustakaan Majelis Nasional di Tokyo)

 

Pada masa Perang Pasifik, Perusahaan surat kabar Jepang menerbitkan koran harian "Pewarta Selebes" untuk warga Makassar di bawah pemerintahan militer Angkatan Laut Jepang. Sirkulasi mencapai sekitar 10.000 di awal dan 30.000 di puncak. Koran itu dikirim dari pintu ke pintu dalam gaya Jepang.
Jumlah orang penerbitan "Pewarta Selebes" mencapai puncaknya sekitar 21 orang, termasuk 4 karyawan dari perusahaan surat kabar "Mainichi Shimbun" Jepang, reporter lokal, dan juru ketik.

Pemimpin redaksi adalah Kondo Saburo (1912-1948), dan wakil pemimpin redaksi adalah Manai Sophiaan (1915-2003) yang lahir di Takalar, Sulawesi Selatan, dan kemudian setelah kemerdekaan Indonesia menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk PBB dan Duta Besar untuk Moskow.

Saat itu, artikel "Pewarta Selebes" harus disensor oleh badan sensor pemerintahan sipil Angkatan Laut. Untungnya orang yang menyensor adalah Mr. Fujita Masaru, yang lahir di Jawa dan fasih berbahasa Belanda. Mr.Fujita Masaru memiliki hubungan dekat dengan Pemimpin Redaksi Kondo, jadi sepertinya penyensoran berlalu tanpa masalah.

Konon, artikel surat kabar itu dirancang untuk membantu kemerdekaan Indonesia sekaligus untuk bekerja sama dengan kebijakan Jepang. Yang paling populer adalah kisah pertempuran para pahlawan. Kisah Sultan Hasanuddin pada abad ke-17 dan kisah Diponegoro sangat populer. Mereka juga menulis artikel tentang kebijakan kolonial yang mengerikan seperti apa yang dimiliki Belanda, Inggris, Prancis, dll, dan berharap orang-orang akan berpikir bahwa mereka tidak boleh melakukannya lagi.

Latar belakang Kondo Saburo


Kondo Saburo saat ia memasuki sekolah Rikikokai di Tokyo


Pusat kantor Rikkokai di Tokyo sekarang (2020)

Kondo berasal dari Hatazu-gun, prefektur Aichi Jepang, dan lulus dari sekolah pertanian di kota Gama-goori dengan hasil yang sangat baik pada tahun 1930.
Setelah itu, Kondo belajar di "Sekolah Bisnis Rikkokai" dekat Stasiun Ekoda di Jalur Seibu Ikebukuro di Tokyo. Meski tubuhnya kecil, ia dikatakan sudah mampu melakukan kendo (seni bela diri) tahap pertama.

Omong-omong, Sekolah Rikikokai didirikan pada tahun 1897 oleh Pdt. Shimanuki Hyodayu. Saat itu, hanya sedikit institusi di Jepang yang memberikan panduan tentang migrasi ke luar negeri. Oleh karena itu, sekolah membuka rumah bagi para siswa yang bekerja keras dan mengajarkan pentingnya orang Jepang ekspansi ke luar negeri. Saat ini jumlah migrasi ke luar negeri seperti dulu mengalami penurunan. Sejak 2014, Rikkokai telah menjadi "Perusahaan Pendidikan", mengoperasikan asrama untuk siswa internasional dan melakukan proyek kerjasama internasional.

Kondo ke Jawa

Pada tahun 1931, Kondo pindah ke Jawa sebagai karyawan toko pada usia 22 tahun.
Awalnya, bahasa Indonesia-nya adalah bahasa Melayu Tionghoa kelas rendah yang digunakan di toko, sehingga dia tidak bisa membaca koran berbahasa Indonesia terbitan nasionalis Indonesia saat itu.
Jadi Kondo belajar bahasa Indonesia di sekolah malam Taman Siswa di Semarang.
Dia berkata bahwa dia belajar bahasa Indonesia dengan menggunakan Perjanjian Lama yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Mengapa Kondo memilih Perjanjian Lama? Mr.Taniguchi Goro, pakar studi Indonesia di Jepang, menunjukkan bahwa dia mungkin membaca "Rasul Musa dari Pembebasan Nasional" (diterbitkan dalam Rikko Sekai edisi Januari 1931) yang ditulis oleh Furuta Junzo ketika dia menjadi siswa di Sekolah Bisnis Rikkokai di Tokyo.

Singkatnya, Perjanjian Lama bisa disebut sebagai sejarah migrasi orang Israel. Secara khusus, beberapa buku berikut adalah catatan migrasi bangsa bahwa orang-orang Israel melarikan diri dari perbudakan di Mesir dan menunjuk ke Kanan, tanah yang dijanjikan Tuhan. Kondo mungkin telah melapiskan adegan yang digambarkan dalam Perjanjian Lama di Indonesia pada saat itu.

Sementara itu, Kondo berkenalan dengan Kubo Tatsuji, yang menerbitkan surat kabar "Harian Hindia Belanda" (dalam bahasa Jepang dan Indonesia) di Jakarta. Ketika dia menyadari orang Indonesia yang terengah-engah di bawah kekuasaan Belanda, dia menjadi tidak bisa diam. Ia keluar dari perusahaan dagang (toko) di sana dan menjadi wartawan "Harian Hindia Belanda dibawah Kubo Tatsuji. Saat itu, rekan-rekannya termasuk Ichiki Tatsuo dan Yoshizumi Tomegoro.

“Bisakah Indonesia tetap apa adanya? Kekayaan Indonesia haruslah milik orang Indonesia. Kekayaan orang oriental pasti milik orang oriental.
Jepang yang bangga menjadi pemimpin Asia, harus mendukung Indonesia untuk mengukur kemerdekaan Indonesia dan membebaskannya dari penjajahan Belanda."

Semangat dan pendapat kedua anak muda itu setuju. Konon, ia mulai berinteraksi dengan orang-orang yang diam-diam berencana merdeka Indonesia.

Kondo kembali ke Jepang sebelum dimulainya Perang Pasifik. Dia sudah tinggal 10 tahun di Indonesia dan merupakan orang berbakat yang belajar di Taman Siswa, sehingga tampaknya Angkatan Laut Jepang telah memperhatikannya sebagai personel dakwah. Tercatat, selama berada di Tokyo, Kondo berkesempatan makan malam bersama Haji Kobayashi dan lainnya yang berencana bekerja di Makassar.

Sebagai editor surat kabar "Pewarta Selebes" di Makassar

Pada tanggal 11 Januari 1942 pasukan terjun payung Angkatan Laut Jepang mendarat di Manado di ujung utara Pulau Sulawesi. Angkatan Laut Jepang kemudian mengamankan Pangkalan Angkatan Udara Hindia-Belanda di Kendali, Sulawesi Tenggara pada 24 Januari, dan mendarat di Makassar pada 9 Februari untuk menduduki kota tersebut. Tercatat, upacara penyerahan tentara Belanda akhirnya digelar pada 7 Maret lalu. Pemerintahan sipil dilantik di Makassar pada 10 Maret.

Kondo berangkat ke Batavia (Jakarta) sebagai anggota pers angkatan laut pada Maret 1942.

Atas perintah Laksamana Maeda Tadashi yang ditempatkan di Jakarta, Kondo berangkat ke Makassar untuk menerbitkan surat kabar berbahasa Indonesia dimana berada di bawah kendali Angkatan Laut Jepang.
Pada bulan Mei tahun ini, Kondo mengunjungi rumah Manai Sophiaan dan menawarkan untuk bekerja sama dalam penerbitan surat kabar di Makassar.
Manai Sophiaan adalah seorang Bugis kelahiran 1915, lulusan Taman Siswa Yogyakarta, dan dikenal sebagai pemimpin pergerakan nasional selama mengajar di Makassar. Dia diusir oleh pihak Belanda dan menganggur saat Kondo berkunjung.

Kubo Tatsuji, yang menerbitkan "Harian Hindia Belanda" di Jakarta, juga menuju Makassar, tetapi pada tanggal 22 Agustus 1942, kapal yang dia tumpangi ditenggelamkan oleh serangan kapal selam AS dan Kubo tewas.


Manai Sophiaan, 1915~2003

Manai Sophiaan diminta oleh Kondo Saburo untuk membantu menerbitkan koran di Makassar, maka ia pergi ke Jawa untuk menanyakan pengetahuan tentang penerbitan koran dan meminta seorang kenalan untuk menemui Sekarno. Sekarno sangat menggembirai Manai Sophiaan untuk kerjasama untuk menerbitkan koran di Makassar. Dia memutuskan untuk bekerja sama dengan Kondo.

Sebagai riset pasar pendahuluan untuk menerbitkan koran bagi masyarakat lokal di Sulawesi, Kondo berkeliling Sulawesi (pedalaman Toraja, Malili, Pinrang, Mamuju, dll.). Tujuannya untuk mengetahui berapa banyak orang yang bisa membaca koran bahasa Indonesia dan dampak dari penerbitannya. Kondo juga tampaknya telah memikirkan seberapa besar kekuatan gerakan kemerdekaan bisa diperluas di masa depan. Namun, saat itu perjalanan yang berbahaya dengan membawa pistol karena kemungkinan tentara Belanda masih bersembunyi di pedalaman Sulawesi dan perasaan masyarakat adat terhadap Jepang tidak diketahui.

 


Gedung tempat kantor Pewarta Selebes berada. Gedung itu runtuh pada Oktober 1944 setelah dibom

Perusahaan surat kabar "Mainichi Shimbun" ditugaskan secara resmi untuk menerbitkan surat kabar di Pulau Selebes pada bulan Juli 1942, dan memasuki Makassar pada bulan Oktober tahun yang sama. Kondo bergabung dengan perusahaan itu sebagai kepala editor yang bertanggung jawab atas harian "Pewarta Selebes". Surat kabar "Pewarta Selebes" pertama itu diterbitkan pada 8 Desember 1942.(Foto di bawah judul)


Foto atas: Kondo (kiri) dan Haji Kobayashi (kanan) yang mengucapkan kaul ipar (Waktu memfoto tidak diketahui)

Namun, gagasan Kondo sepertinya tidak sejalan dengan kebijakan Angkatan Laut Jepang yang menjadikan Indonesia jajahan Jepang. Kondo memiliki keraguan tentang kebijakan anti-nasionalis Angkatan Laut sejak awal pendudukan. Ketika perang berlangsung, ia katanya menjadi lebih kritis terhadap kebijakan Angkatan Laut, dengan alasan bahwa kendali Jepang harus dilonggarkan dan kemudian kemerdekaan Indonesia yang substansial harus dicapai.

Di latar belakang, dipahami bahwa Angkatan Laut Jepang didukung penuh oleh raja-raja Bugis, Gowa dan raja lainnya di Sulawesi Selatan. Dan tampaknya Kondo dkk diperlakukan sebagai "seorang pengembala Indonesia".

Sejak paruh kedua tahun 1943, serangan udara di Makassar menjadi sengit. Ketakutan bahwa Jepang akan dikalahkan bergema di hati semua orang di Makassar. Apa yang terjadi dengan Indonesia jika Jepang kalah? Apakah akan kembali ke koloni Belanda lagi? Jangan membiarkan itu terjadi. Kalaupun Jepang kalah, Indonesia akan merdeka. Hanya dengan begitu tujuan perang dapat tercapai. Untuk itu, Kondo berpendapat bahwa Indonesia harus bisa merdeka secepatnya. Kondo melakukan terbaik untuk mengarahkan opini publik ke arah itu.

Pada pertengahan 1944, situasi perang menjadi kritis. Pada 7 September 1944, Perdana Menteri Jepang, Koiso Kuniaki akhirnya memberikan "Pidato Mengakui Kemerdekaan Indonesia" guna menahan hati rakyat Indonesia yang perasaannya terhadap Jepang mulai terpuruk. Redaksi "Pewarta Selebes", bekerja menerjemahkan isi pernyataan dan menerbitkannya di koran pada 10 September.


Naskah lengkap "Pidato menyetujui Kemerdekaan Indonesia" Perdana Menteri Koiso pada tanggal 7 September 1944 tercermin dalam "Pewarta Selebes" tertanggal 10 di Makassar.

Selain itu, artikel tanggal 13 September 1944 memuat tajuk rencana Dr. Ratulangi yang aktif menjelang kemerdekaan Indonesia nanti. Dr.Ratulangi telah ditugaskan sebagai penasehat administrasi sipil di Makassar pada bulan Desember 1943.


Koran 13 September 1944 memuat pandangan Dr. Ratu Langie

Dalam tulisannya Ratu Langie menyatakan bahwa “Pernyataan Kemerdekaan Indonesia ini merupakan reward (bingkisan) atas kerjasama rakyat Indonesia dengan Angkatan Darat dan Angkatan Laut Jepang.
Sampai saat ini belum pernah ada cerita tentang membuat Indonesia merdeka dari Belanda di kemudian hari.
Jika Jepang kalah perang ini, Belanda akan kembali lagi ke Pulau Sulawesi dan akan menempatkan penindasan. Pertempuran berada dalam situasi yang sangat sulit sekarang. Sekarang saatnya bangsa Indonesia berusaha lebih keras untuk memenangkan perang ini. Saya ingin anda bekerja sama dengan tentara Jepang untuk melanjutkan perang ini."

Situasi perang berada di tahap kondisi terminal, tetapi karena Ratu Langie menjabat sebagai anggota pemerintahan sipil di Makassar, tampaknya dia tidak punya pilihan selain menyerukan kerja sama dengan tentara Jepang.

Ada juga Editorial dari Nadjamuddin Daeng Malewa yang kemudian menjadi Perdana Menteri pertama Negara Indonesia Timur.


Editorial Najamuddin Daeng Malewa (tanggal tidak diketahui)

Kondo Saburo dan Gerakan Kemerdekaan Indonesia


Kurosaki Hisashi (baris depan samping kiri) pada Maret 2, 2016

Saat itu, Mr. Kurosaki Hisashi (1919-2020) yang merupakan pembantu dari perusahaan surat kabar "Mainichi Shimbun" Jepang dan salah satu editor Pewarta Selebes, menulis dalam buku “Melihat Kembali Delapan Puluh Tahun” sebagai berikut.

"Mungkin bukan karena kunjungan Sekarno ke Makassar, tapi suatu hari para tokoh dan tokoh pergerakan nasional Makassar berkumpul di Maladekaya Square dekat rumah Manai Sophiaan untuk berfoto memperingati unjuk rasa tersebut. Sekitar 40 orang berkumpul, dan melihat foto tersebut, tampak Kondo Saburo, redaktur Pewarta Selebes, sedang duduk di tengah kursi barisan depan. Ini adalah gambaran yang membuktikan betapa dia dipercaya oleh para pemimpin di Makassar."


Foto peringatan pada rakyat "SOEDARA (Sumber Darah Rakyat) pada May 1945"
5. Dr. Sam Ratulangi, 6. Haji Umar Mansur 7. S. Kondo 8. Tadjoeddin Noor 9. Najamuddin Daeng Malewa, 10. Padjonga Daeng Ngalle Karaeng Polongbangkeng 11. Hadja Rati 12. Manai Sophiaan

Salah satu editor Indonesia bawahan Kondo berkata: "Dia adalah teman yang penuh kasih dan bagi kami dia seperti saudara. Bahasa Indonesia-nya lancar ... Kami banyak berdiskusi dengannya tentang politik, tujuan Jepang, dan kemerdekaan Indonesia. Dia membantu kami dalam banyak hal. Ketika artikel kami disensor, Dia menghasilkan artikel itu lulus dan dicetak. "

Terlepas dari posisi resminya sebagai aktivitas urusan publik Angkatan Laut Jepang, Kondo tidak terlalu peduli tentang fakta bahwa ia telah membangkitkan perasaan nasionalis terhadap orang Indonesia yang berhubungan dengannya.

Di akhir perang, dia dikatakan diam-diam mendukung organisasi Indonesia. Otoritas Angkatan Laut Jepang tidak berusaha menghentikan aktivitasnya karena dia adalah orang yang berbakat. Dan dia mendapat dukungan kuat didalam masyarakat orang Jepang di Makasar.

Menurut Awatake Shoji, yang pernah bekerja di pemerintahan sipil di Makassar saat itu, Kondo dijuluki "Kon chan" oleh staf staf wanita di tempat kerja itu.

Di antara kawan-kawan di Makassar yang memiliki pandangan yang sama tentang nasionalisme Indonesia seperti Kondo, ada Yoshizumi Tomegoro dan adik iparnya, Kobayashi Tetsuo.

Setelah Jepang Kalah Perang

Mengenai berakhirnya perang pada 15 Agustus 1945, penduduk setempat tampaknya mengetahui dalam siaran gelombang pendek bahwa Jepang telah menyerah tanpa syarat.
Manai Sophian dan Kurosaki tinggal di kamar itu dan bekerja sepanjang malam untuk menerjemahkan dokumen sulit yang menyampaikan maksud Kaisar tentang penyerahan tampa syarat.

Setelah itu, Pewarta Selebes berakhir pada 20 Agustus 1945. Koran terakhir terbitan 856.
Sangat sayangkan bahwa surat kabar tersebut tidak sampai ke Jepang karena memburuknya situasi perang dan tidak ada catatan penting yang tersisa.

Setelah kekalahan Jepang pada tanggal 15 Agustus 1945, Manai Sophian, Hadja Rati dll yang pernah bekerja sebagai tangan tangan Kondo, muncul ke permukaan, dan memimpin untuk merdeka Indonesia.

Suatu hari Kondo pergi ke gudang senjata tentara Jepang, membawa senjata api dan amunisi dengan truk, dan menyerahkannya kepada mereka yang melakukan gerakan kemerdekaan. Saat itu, Kondo berkata, “Tolong jangan berakting selama orang orang Jepang ditahan di Selebes. Mereka menganut ini. Para tahanan orang Jepang kembali ke Jepang pada Mei 1946.

Perlu membandingkan apakah hasilnya bagus atau tidak dengan kasus Pulau Jawa, wilayah administrasi militer angkatan darat. Di Sulawesi, Belanda kembali berkuasa dan untuk sementara waktu mendirikan "Negeri Indonesia Timur" (NIT), dan kekacauan terus berlanjut.

Kondo Saburo ditempatkan di kamp Maros bersama istrinya, seorang dokter Indonesia, dan putrinya yang berusia dua tahun.

Pertama tentara Australia, kemudian tentara Indian Britania, dan akhirnya tentara Belanda datang ke Makassar. Saat itulah Kondo dipanggil sebagai penjahat perang.

Belanda menangkapnya Kondo sebagai penggerak kemerdekaan Indonesia dan menyiksanya dengan kekerasan setiap hari, tetapi Kondo tidak berkata nama nama kawan yang bekerja keras untuk merdeka Indonesia di Makassar.

Namun, kekuatan fisiknya semakin melemah dari hari ke hari. Namun, jika tetap seperti itu, tidak selalu mungkin kehilangan siksaan dan menyebut nama pendamping yang berjuang untuk kemerdekaan. "Ayo mati. Ayo saya mati untuk jaga kerahasiaan." Dia memutuskan.

Tidak ada yang melihat akhir hidupnya. Namun, tampaknya hampir pasti bahwa dia dimandikan dengan bensin dan membakar dirinya sendiri, menurut sebuah cerita dari seorang Jepang yang merawatnya secara langsung di kamp pada saat itu. Tentara Belanda merahasiakan kematiannya karena takut mempengaruhi orang Indonesia.

Dia adalah orang berharga yang mungkin menjadi pahlawan Kemerdekaan kalau dia hidup dengan baik.

Copyright (c) Japan Sulawesi Net, All Rights Reserved.